Pentakosta dan Indonesia Walk For Peace 2026
Paroki Kartasura , Minggu 24 Mei 2026 suasana hangat dirasakan oleh umat setelah merayakan Hari Raya Pentakosta dengan menyambut perisitiwa persaudaraan lintas iman di gereja Katolik Santa Maria Kartasura saat rombongan Indonesia Walk for Peace 2026, yang terdiri dari 58 Bhikkhu berasal dari dari Thailand (43), Malaysia (4), dan Laos (3) serta Indonesia (8) juga seluruh unsur dari Indonesia Walk for Peace 2026 singgah untuk beristirahat sejenak dalam menempuh perjalanan yang panjang, ±666 KM perjalanan spiritual melintasi Bali dan Jawa, 31 Hari dari sejak 7 Mei dan akan berakhir pada 6 Juni 2026, Pada tanggal 31 Mei 2026 para Bhikkhu akan merayakan Waisak di candi Borobudur.


Kedatangan para Bhikkhu disambut oleh Pastor Paroki Gregorius Kriswanta, Pr. dan Vikaris Parokial Constatius Padmaka Sigid, Pr. umat dan tim penerima tamu Paroki Santa Maria Kartasura. dengan memberikan setangkai bunga mawar sembari Orang Muda Katolik menaburkan bunga mawar (mawar sebagai simbol turunnya Roh Kudus)* di jalan setapak yang akan dilewati para Bhikkhu, yang kemudian naik ke Aula Adrianus untuk makan siang dan beristirahat. Turut serta Bapak Camat Kartasura Ikhwan Sapto Darmono, S.Pd, M.Pd. berserta jajaran yang datang saat rombongan melepas lelah. Acara dilanjutkan dengan Ceremoni sederhana yaitu sambutan dan pertukaran cindera mata.

Dalam sambutannya Pastor Paroki Gregorius Kriswanta, Pr. menyampaikan: "Rasa syukur dan sukacita karena Gereja Santa Maria Kartasura dipercaya menjadi salah satu tempat persinggahan perjalanan damai tersebut. Kehadiran para bhikkhu dan peserta dinilai menjadi tanda nyata semangat persaudaraan, toleransi, dan perdamaian antar umat beragama tepat disaat umat Katolik merayakan Hari Raya Pentakosta.

Bhante Phanarin Sumetho (dari Thailand) sebagai pimpinan rombongan menyampaikan "Terima kasih dan rasa syukur atas sambutan hangat umat gereja Santa Maria dan masyarakat Kartasura menambah kekuatan dan semangat para Bhikhhu dalam melakukan perjalanan spiritual ini.

Serta Bapak Camat Kartasura Ikhwan Sapto Darmono, S.Pd, M.Pd. yang merasa berbahagia dan bersyukur atas persitiwa perhelatan ini, para Bhikkhu berjalan melewati Kartasura menjadi simbol perdamaian dan toleransi lintas iman.


Bhante Tejapunnyo dalam wawancara singkat dengan Tim Website mengatakan: Tujuan dari perjalanan inii adalah merayakan Waisak di candi Borobudur , dalam perjalanan melatih kesabaran dan ketabahan mental demi mengatasi kekotoran batin.:" Jika tidak bisa berbat baik maka lebih baik diam, Jika tidak bisa diam, maka lebih baik berbuat kebajikan".
Liputan Tim Website | Penulis: V. Widi M & MM Hadi W - Photo : Exclusive
*Makna Mawar dalam Pentakosta
Simbol Lidah Api: Dalam sejarah liturgi, kelopak mawar merah sering kali dikaitkan dengan lidah-lidah api yang turun dan hinggap di atas para rasul saat peristiwa Pentakosta.
Martir: Warna merah pada mawar juga merepresentasikan darah para saksi iman (martir) dan pengorbanan suci yang dimampukan oleh kuasa Roh Kudus.
Tradisi Hujan Mawar: Di beberapa negara, seperti Italia dan tradisi gereja klasik, terdapat perayaan yang dikenal sebagai Pascha Rosatum (Paskah Mawar), di mana kelopak mawar ditaburkan dari langit-langit gereja untuk mensimbolkan curahan karunia Roh Kudus.