Kepompong dan Kursi Hijau Seminari
Kepompong dan Kursi Hijau Seminari
“Panggilan bukan prestasi, bukan keberhasilan, tetapi pengalaman bekerja sama dengan rahmat.”

Paroki Kartasura 12 Juli 2026
Kepompong dan Kursi Hijau Seminari
“Panggilan bukan prestasi, bukan keberhasilan, tetapi pengalaman bekerja sama dengan rahmat.”
Kalimat tersebut membuka pembicaraan mengenang kembali saat Romo Patrik masih menjadi misdinar di Paroki Santa Maria Kartasura pada tahun 2011 hingga awal 2013. Dalam suasana hangat di Pasturan Paroki Santa Maria Kartasura, Tim Website Paroki Kartasura berkesempatan berbincang dengan Patrik Diego Arbi Arwendi, Pr. yang belum lama menerima tahbisan imamat bersama tiga imam lainnya, yaitu: Romo Fransiskus Xaverius Romo Merry Christian Putra, Pr. Romo Feremenatos Oktafilio Adi Prasetya, Pr. dan Romo Yohannes Bramanda Ryan Kharisma, Pr. Pada : Senin, 29 Juni 2026 pukul 10.00 WIB di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta.
Perjalanan Panggilan Romo Patrick Diego, Pr.
“Yang pertama tentu syukur yang mendalam, ada kebanggaan, dalam artian kebanggaan ini bukan kebanggaan karena merasa telah mencapai sesuatu dengan kekuatan sendiri. namun oh aku boleh dipilih oleh Allah untuk menjalankan karya utusan ini, Di tengah proses kami sadar, kami itu orang terbatas. Orang yang rapuh, terkadang tak akan lihat yang retak. Tetapi tetap dipercaya oleh Allah untuk boleh ambil bagian sekecil apapun dalam karyanya yang besar itu. Termasuk juga ada rasa haru, karena ada kebanyakan momen saya menangis ketika ditahbiskan. Meneteskan air mata, tetapi itu yang jadi perasaan yang paling dominan. Syukur, suka cita, bangga dan haru”. Kalimat tersebut menjadi salah satu refleksi mendalam Romo Patrik Diego, Pr. ketika mengenang perjalanan panjang menuju tahbisan imamat. Tiga belas tahun perjalanan sejak lulus SMP hingga akhirnya ditahbiskan menjadi imam menjadi sebuah proses panjang yang tidak hanya diisi dengan pendidikan, tetapi juga pemurnian diri, pergulatan, kebersamaan, dan pengalaman semakin mengenal kasih Allah.
Tiga Belas Tahun dalam Sebuah Perjalanan Panggilan
Perjalanan Romo Patrik menuju imamat dimulai setelah menyelesaikan pendidikan SMP. Ia menjalani empat tahun pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Setelah itu, ia melanjutkan satu tahun di Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya Jangli - Semarang, karena memilih jalan panggilan sebagai imam diosesan Keuskupan Agung Semarang. Perjalanan kemudian berlanjut di Seminari Tinggi Kentungan - Yogyakarta dengan studi filsafat dan teologi. Ia juga menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Mertoyudan sebagai pendamping seminaris. Setelah itu, ia kembali ke Kentungan untuk melanjutkan studi S2 Filsafat Teologi. Tahapan berikutnya adalah masa pra-diakonat yang dijalani di Paroki Solo Baru, kemudian kembali ke Kentungan untuk menerima tahbisan diakon dan selanjutnya kembali menjalani pelayanan di Paroki Solo Baru. “Jadi, totalnya adalah 13 tahun perjalanan setelah lulus SMP,” kenangnya. Namun, bagi Romo Patrik, tiga belas tahun tersebut bukan sekadar perjalanan pendidikan formal. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan masa pemurnian diri.
Bukan Sekadar Belajar, tetapi Dimurnikan
Menjalani pendidikan menuju imamat tentu tidak selalu mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi: pergulatan pribadi, rasa lelah, kebosanan, konflik dengan teman, kegagalan dalam studi, hingga pengalaman ketika tanggung jawab tidak dijalankan dengan baik. Namun, justru melalui berbagai pengalaman tersebut, Romo Patrik belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, tekun, jujur, dan matang. “Pembinaan itu bukan sesuatu yang selalu nyaman, karena kita banyak dihadapkan pada pengalaman-pengalaman yang menantang dan menguji,” ungkapnya. Ia menyadari bahwa proses formasi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan akademis. Kehidupan komunitas, kematangan kepribadian, kehidupan rohani, serta kesehatan jiwa dan raga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Menariknya, pengalaman yang paling mengguncang justru tidak selalu datang dari peristiwa besar. Kadang, pengalaman sederhana seperti rasa lelah, kebosanan, konflik dengan teman, rasa tidak nyaman, atau kegagalan dalam ujian menjadi kesempatan untuk belajar dan bertumbuh.
Kursi Hijau dan Koreksi Fraterna
Perjalanan panggilan juga menjadi perjalanan bersama teman-teman seperjuangan. Ketika kali pertama masuk Seminari Mertoyudan, ada sekitar 95 orang yang memulai perjalanan. Namun, seiring berjalannya waktu, hanya 11 orang yang masih bertahan dalam perjalanan panggilan tersebut. Kebersamaan dengan teman-teman seminaris menjadi salah satu kekuatan penting. Mereka saling berbagi pengalaman, berdiskusi, meneguhkan, dan belajar satu sama lain. Salah satu ruang kebersamaan yang dikenang Romo Patrik adalah “Kursi Hijau” di Seminari Tinggi. Di tempat yang sederhana tersebut, para seminaris biasa duduk santai setelah makan, berbincang, bercanda, dan membangun keakraban. Kursi sederhana berwarna hijau itu ternyata menyimpan makna yang lebih dalam. Sejak dahulu, para romo juga biasa duduk dan berbincang di tempat tersebut. Selain itu, ada pula kegiatan yang disebut correctio fraterna, (tradisi atau praktik menegur, meluruskan, dan mengingatkan sesama anggota komunitas dalam suasana kasih agar kembali pada jalan yang benar dan berkembang ke arah yang lebih baik) kesempatan bagi para frater untuk saling memberikan masukan secara terbuka. Kurang lebih setiap enam bulan, mereka saling menyampaikan hal-hal baik yang perlu dipertahankan sekaligus hal-hal yang masih perlu dikembangkan.“Mengkoreksi bersama, duduk bersama dan koreksi langsung ke pribadi. Koreksi untuk si A apa, si B apa, berapa kali itu hanya empat mata “ jelasnya, proses tersebut merupakan bentuk kebersamaan yang membantu setiap pribadi untuk bertumbuh. “Yang pasti ada momen-momen kedekatan bersama, kami banyak kesempatan sharing, saling meneguhkan, belajar satu sama lain. Memperkaya diri dengan pengalaman orang lain. Ada banyak momen diskusi juga, diskusi kuliah, ada momen santai juga, jagongan, di seminari tinggi itu ada namanya kursi hijau, dimana kami ngobrol santai setelah makan, kami ngobrol ece ece nan (saling mengolok dalam konteks bercanda) Itu bagian dari membangun keakraban” tuturnya.
Tahbisan: Syukur, Sukacita, Kebanggaan, dan Haru
Setelah melewati perjalanan panjang tersebut, tahbisan imamat menjadi sebuah pengalaman yang penuh syukur. Romo Patrik mengungkapkan bahwa perasaan yang paling dominan ketika menerima tahbisan adalah syukur, sukacita, kebanggaan, dan haru. Namun, kebanggaan yang dimaksud bukanlah kebanggaan karena merasa telah mencapai sesuatu dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, ia memaknainya sebagai kebanggaan karena dipercaya dan dipilih oleh Allah untuk ambil bagian dalam karya-Nya. Di tengah kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kerapuhan, pengalaman dipanggil dan dipercaya oleh Allah menjadi sebuah rahmat yang luar biasa. Menjelang tahbisan, Romo Patrik pun mengalami pergulatan batin. Ada perasaan seperti berada di antara mimpi dan kenyataan.
“Rasanya Tuhan tidak menunggu sampai kita sempurna terlebih dahulu untuk boleh ditahbiskan. Setidaknya kita punya keberanian untuk menyerahkan diri agar dipakai oleh Allah,” ungkapnya.
“Kamu Harus Bersaksi...........”
Salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju tahbisan adalah pemilihan motto tahbisan. Motto tersebut tidak dipilih secara pribadi, melainkan melalui proses bersama dengan rekan-rekan yang sama-sama menjalani perjalanan menuju imamat. Setelah berdiskusi dan berbagi pengalaman, mereka menemukan satu titik temu: pengalaman dikasihi Allah dan panggilan untuk menjadi saksi. Akhirnya, mereka memilih moto dari Yohanes 15:27: “Kamu harus bersaksi karena dari semula kamu bersama-sama dengan Aku.” Bagi Romo Patrik dan rekan-rekannya, motto tersebut bukan sekadar kalimat indah, tetapi menjadi ungkapan pengalaman iman dan arah perjalanan pelayanan mereka. Ia percaya bahwa pilihan tersebut juga merupakan bagian dari karya Roh Kudus yang membentuk mereka bersama. Romo Patrik menjelaskan:“Kalau bertolak dari motto, tentu yang harus dikuatkan itu pengalaman perjumpaan dengan Yesus sendiri. Itu modal dasar yang tidak bisa dipungkiri karena toh karya pelayanan aktivitas seorang imam itu kalau tidak bersumber dari Allah sang sumber itu ya semua hanya seperti pekerjaan, formalitas kering”.
Menjadi Imam yang “Prasaja”
Kini, setelah menerima tahbisan, Romo Patrik menyadari bahwa tantangan baru telah menanti. Sebagai imam, ia akan berjumpa dengan umat dengan berbagai karakter, pengalaman, dan latar belakang kehidupan. Baginya, kunci utama dalam menjalani tugas pelayanan adalah terus memelihara pengalaman perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus. Pengalaman tinggal bersama Kristus dan mengenal-Nya secara dekat menjadi dasar bagi seorang imam untuk memberikan kesaksian. Kesaksian tersebut tidak hanya disampaikan melalui kata-kata atau khotbah, tetapi terutama melalui kehidupan sehari-hari. “Kesaksian itu memang bukan semata-mata dengan kata-kata, khotbah, dan sebagainya, tetapi juga melalui hidup,” katanya. Ia berharap dapat menjalani pelayanan sebagai imam dengan sederhana, setia, dan ora neko-neko—tidak berlebihan dan tidak macam-macam. Menjadi imam, baginya, berarti berusaha menghadirkan Kristus di tengah kehidupan umat dan melayani sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Dari Kepompong Menjadi Berkat
Ada satu gambaran yang sejak dahulu dekat dengan perjalanan hidup Romo Patrik: kepompong. Ketika masih misdinar, ia pernah mengibaratkan dirinya seperti seekor ulat yang sedang menjalani proses untuk menjadi kupu-kupu. Ketika memasuki seminari, refleksi tersebut kembali ditulisnya sebagai gambaran proses formasi. Kepompong menjadi simbol perjalanan pembentukan diri. Ada proses yang tidak selalu mudah, ada masa menunggu, dan ada perubahan yang berlangsung perlahan. Namun, menjadi “kupu-kupu” bukan berarti sekadar menjadi indah dan dikagumi. Baginya yang lebih penting adalah bagaimana hidupnya dapat menjadi berkat bagi orang lain. Ia memberikan gambaran sederhana: seekor kupu-kupu yang hinggap di bunga dan membantu proses penyerbukan. “Poinnya adalah menjadi berkat. Menjadi berkat. Bukan pada keindahan atau apa pun,” tegasnya.
Tidak Ada Krisis Panggilan, yang Ada Krisis Tanggapan
Di akhir percakapan, Romo Patrick menyampaikan pesan khusus kepada orang-orang muda, terutama mereka yang sedang bergulat dengan pertanyaan mengenai panggilan hidup. Menurutnya, Tuhan terus memanggil banyak orang. “Tidak ada yang namanya krisis panggilan. Mosok Tuhan krisis?” ujarnya. Menurutnya, yang sering menjadi persoalan bukanlah Tuhan yang berhenti memanggil, melainkan manusia yang tidak berani menanggapi panggilan tersebut. Karena itu, ia mengajak kaum muda untuk berani bertanya dalam hati:“Tuhan, apakah Engkau menghendakiku untuk ambil bagian dalam jalan pengabdian menjadi romo, bruder, atau suster?” Pertanyaan tersebut mungkin sederhana, tetapi dapat menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang. Berani bertanya, berani mencoba, dan berani menyerahkan diri menjadi bagian penting dalam menanggapi panggilan Tuhan.
Panggilan adalah Dialog antara Allah dan Manusia
Menutup percakapan, Romo Patrik menyampaikan sebuah refleksi yang sangat kuat tentang makna panggilan imamat. “Satu hal lagi yang kemarin menjadi refleksi saya ketika tahbisan imamat, bahwa panggilan ini bukan prestasi, bukan keberhasilan, tapi juga bukan karya sepihak Allah. Seolah-olah Allah itu bekerja seorang diri, tetapi menjadi pengalaman bekerja sama dengan Rahmat. Misteri dialogis antara Allah yang memanggil dan saya yang menanggapi secara manusiawi. Suka-duka, perjuangan dan pengorbanan termasuk juga di tengah segala kerapuhan manusiawi yang tetap menyertai perjalanan panggilan ini. Justru dalam kerapuhan manusiawi itulah Allah bekerja.” Ujarnya menutup perbicangan hangat malam itu dengan menyeruput teh hangatnya.
Perjalanan tiga belas tahun Romo Patrik akhirnya sampai pada sebuah titik baru. Dari seorang anak misdinar di Paroki Santa Maria Kartasura, remaja yang bertumbuh pada umumnya yang lalu kemudian menjalani perjalanan panjang di seminari, melewati berbagai proses pembentukan, hingga akhirnya melayani umat sebagai seorang imam.
Selamat melayani dan menggembalakan umat,
Berkah Dalem.
Penulis:
Shaviera dan MM Hadi W